Tahanan Palestina akhiri mogok makan di Israel
Unjuk rasa warga Palestina di Tepi Barat menuntut pembebasan Khader Adnan.
Warga Palestina yang melakukan mogok makan selama 66 hari di tahanan Israel sudah menghentikan aksinya dengan kesepakatan akan dibebaskan dalam waktu dua bulan.
Kementerian Kehakiman Israel mengumumkan Khader Adnan akan tetap ditahan hingga 17 April, ketika masa penahanan administratif atasnya berakhir.
“Khader Adnan akan menghentikan mogok makan. Mereka tidak akan memperpanjang penahanan administratif atasnya dan dia akan bebas pada 17 April,” kata juru bicara Kementerian Kehakiman kepada kantor berita Reuters.
Pengacara Adnan, hari ini (Selasa 21/02), tadinya akan menyerahkan petisi ke Mahkamah Agung Israel untuk meminta pembebasannya namun menteri kehakiman mengumumkan tercapai kesepakatan bahwa dia akan dibebaskan jika tidak ditemukan ‘bukti-bukti mendasar baru’ atasnya.
Adnan menolak untuk makan sejak tanggal 18 Desember tahun lalu ketika dia ditahan di Tepi Barat. Mogok makan itu ditempuh sebagai protes atas kekerasan saat penangkapan maupun interogasi yang menghinanya.
Dia dianggap sebagai salah seorang pemimpin Jihad Islam, yang ditetapkan Israel sebagai organisasi teroris.
Khader Adnan ditangkap militer Israel pada pertengahan Desember 2011.
Militer Israel mengatakan Adnan -seorang tukang roti berusia 33 tahun- ditangkap karena kegiatan-kegiatan yang mengancam keamanan wilayah.
Pengadilan militer Israel memerintahkan Adnan dikenakan penahanan administratif selama empat bulan. Berdasarkan undang-undang Israel, tahanan seperti itu bisa ditahan tanpa batas waktu, tanpa dakwaan, dan juga tanpa pengadilan.
Pekan lalu, sebuah kelompok hak asasi manusia di Israel -yang mengawasi kondisi Adnan- memperingatkan risiko kematian yang dihadapinya.
Beberapa kelompok hak asasi lainnya juga mengkritik penahanannya di rumah sakit Ziv di kota Safed, Israel utara, karena kedua kaki dan salah satu tangannya diikat dengan rantai di atas tempat tidur.
Aksi unjuk rasa warga Palestina di Tepi Barat juga berlangsung untuk menuntut pembabasannya.
Sementara Jihad Islam sudah bertekad akan melakukan balas dendam jika dia meninggal saat berada di dalam tahanan Israel.
Tahanan Palestina mogok makan dua bulan
Banyak warga Palestina menganggap Khader Adnan sebagai pahlawan.
Seorang tahanan Palestina yang melakukan mogok makan selama dua bulan meminta Mahkamah Agung Israel untuk segera membebaskannya.
Khader Adnan dipenjara berdasarkan apa yang disebut Israel ‘penahanan adminstratif’ dan memungkinkan orang ditahan tanpa dakwaan.
Kuasa hukum Adnan, dari Tepi Barat, mengatakan kliennya kemungkinan meninggal bila MA tidak segera menangani kasusnya.
Adnan melakukan mogok makan dalam 63 hari terakhir, lebih lama dari tahanan Palestina sebelumnya. Para dokter memperingatkan ia dapat segera meninggal.
Adnan mulai mogok makan tanggal 18 Desember, sehari setelah ia ditangkap dari rumahnya di kota Arabeh, Tepi Barat.
Adnan adalah anggota kelompok militan Jihad Islam yang didukung Iran. Kelompok ini berjanji bila Adnan meningal mereka akan membalas, kemungkinan dengan meluncurkan roket ke arah Israel dari Gaza.
Pemogokan makan yang dilakukan Adnan menjadikannya dianggap sebagai pahlawan Palestina, dengan ribuan pendukung.
Adnan saat ini berada di rumah sakit Israel dan diawasi oleh Physicians for Human Rights atau kelompok dokter untuk hak asasi cabang Israel.
Adnan diinfus glukose dan mineral. Dokter kelompok itu mengatakan ia masih sadar namun kehilangan berat 30 kilogram, rambutnya mulai rontok dan dapat meninggal tiba-tiba.
Ia telah menjalani hukuman empat bulan penjara. Hakim militer Israel dapat memenjarakan orang sampai enam bulan dengan kemungkinan diperpanjang lagi.
Hakim militer menolak banding Adnan pekan lalu dengan mengatakan ia telah mengkaji bukti dan bahwa hukuman terhadapnya sudah tepat.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Catherine Ashton mengatakan organisasi itu mengikuti kasus Adnan dengan “keprihatinan mendalam.”
“Para tahanan memiliki hak untuk mengetahui dakwaan mereka dan harus mendapatkan sidang yang adil,” kata Ashton dalam satu pernyataan.
Para pejabat militer Israel biasanya menggunakan ‘penahanan administratif’ untuk menangkap warga Palestina yang mereka anggap berisiko terhadap keamanan mereka.
Israel mengatakan bila bukti diumumkan maka dapat membahayakan jaringan intelijen Israel di kawasan Palestina.
Penyiksaan tahanan Libia kembali mengemuka
Penyiksaan di penjara Misrata diduga dilakukan mantan pemberontak untuk balas dendam.
Bukti baru yang mengemuka menunjukan bahwa pendukung mantan pemimpin Libia Muammar Gaddafi mengalami penyiksaan di penjara.
Para tahanan di penjara Misrata kepada BBC mengaku mereka dipukuli, dicambuk dan disengat listrik.
Tuduhan ini datang tepat 100 hari setelah Kolonel Gaddafi tewas akibat kekerasan ditangan mantan pemberontak.
Awal pekan ini lembaga bantuan medis internasional Medecins Sans Frontieres, MSF, mengatakan menunda pekerjaannnya di satu penjara Misrata menyusul dugaan penyiksaan tersebut.
Dugaan penyiksaan mengemuka setelah BBC mengeluarkan laporan wartawan Gabriel Gatehouse yang berhasil masuk ke dalam penjara.
Para tahanan mengatakan kepadanya bahwa mereka mengalami pemukulan dan dicambuk dengan kabel listrik.
“Saya dibawa untuk diinterogasi di sebuah tempat yang digunakan oleh tentara nasional,” kaya seorang tahanan yang meminta namanya dirahasiakan.
“Kaki saya sudah dalam keadaan sakit ketika mereka membawa saya. Saat mereka menginterogasi saya mereka terus memukul kaki saya sehingga menjadi semakin bengkak,” katanya.
Dalam kasus lain para tahanan mengaku penyiksaan berlangsung sebelum mereka tiba di penjara.
“Mungkin ada sedikit kasus mantan pemberontak yang ingin balas dendam tetapi itu bukan berarti perintah datang dari kantor saya untuk menyiksa para tahanan.“
Kelompok HAM internasional mengatakan insiden penyiksaan ini tersebar di Libia.
”Penyiksaan dilakukan oleh petugas militer dan keamanan termasuk oleh banyak milisi bersenjata yang beroperasi diluar kerangka legal,” kata seorang juru bicara Amnesti Internasional.
Sejumlah pihak yang mengelola penjara Misrata kepada BBC mengaku mereka mengetahui para tahanan dibawa untuk disiksa, tetapi mereka mengatakan tidak memiliki kekuasaan untuk menghentikannya.
Banyak penjara di Libia yang memang dikuasai oleh milisi yang tidak bertanggung jawab kepada pemerintah.
Sebelumnya ketua badan HAM PBB Navi Pillay meminta pemerintahan transisi Libia untuk mengambil alih pengawasan semua penjara.
“Ada penyiksaan, eksekusi diluar hukum yang berlaku, pemerkosaan baik terhadap pria maupun wanita,” katanya kepada kantor berita AP.
“Harus ada langkah yang dilakukan secepatnya untuk membantu otoritas, bagi negara untuk mengontrol semua penjara,” kata Navi Pillay.
Bagaimanapun komisi militer kota Misrata membantah tuduhan penyiksaan ini.
Kepala komisi militer Misrata, Ibrahim Beitelmal, mengatakan tuduhan itu sebagai agenda terselubung.
“Saya rasa orang yang bekerja untuk organisasi HAM atau MSF adalah orangnya Gaddafi. Mungkin ada sedikit kasus mantan pemberontak yang ingin balas dendam tetapi itu bukan berarti perintah datang dari kantor saya untuk menyiksa para tahanan,” katanya.
PBB memperkirakan sekitar 8.500 orang yang kebanyakan dituduh sebagai loyalis Gaddafi ditahan di penjara Libia.
Categories: Berita Dunia Tags: kembali, Libia, Mengemuka, penyiksaan, Tahanan
Kapten kapal Concordia tahanan rumah
Kapten Schettino diduga kabur begitu kapalnya kandas meninggalkan penumpang.
Hakim di Italia memberikan status tahanan rumah terhadap kapten kapal pesiar yang menabrak karang Jumat lalu, hingga menimbulkan jatuhnya korban jiwa sedikitnya belasan orang.
Menurut jaksa penuntut, Kapten Francesco Schettino menyebabkan kecelakaan terjadi dan langsung kabur begitu kapal kandas padahal para penumpangnya masih terlantar di kapal Costa Concordia.
Sebuah rekaman pembicaraan telepon antara Kapten Schettino dan seorang petugas pelabuhan setelah kecelakaan menunjukkan hal ini meski dibantah Schettino.
Regu penolong masih mencari 24 orang lagi yang dilaporkan hilang sementara korban jiwa sudah mencapai 11 orang. Korban hilang dilaporkan antara lain berasal dari Jerman, Italia, Prancis dan AS.
Empat awak kapal, masing-masing dari Italia, Hungaria, India dan Peru, juga hilang setelah insiden tabrakan ini yang terjadi di lepas pantai pulau Giglio Porto.
Rekaman pembicaraan telepon antara kapten kapal dan petugas pelabuhan setelah kecelakaan menunjukkan sangkaan jaksa penuntut beralasan, karena sang kapten meninggalkan kapal saat penumpang masih berupaya menyelamatkan diri.
Rekaman yang dirilis oleh koran Corriere della Sera itu menunjukkan Kepala Pelabuhan Livorno, Gregorio de Falco, yang berkali-kali meminta agar kapten Schettino kembali ke kapalnya dan menolong para penumpang.
“Schettino, mungkin kau bisa menyelamatkan dirimu dari laut, tapi awas nanti akan kubuat Anda menyesal. Sana kembali ke kapal“
“Schettino, mungkin kau bisa menyelamatkan dirimu dari laut, tapi awas nanti akan kubuat Anda menyesal. Sana kembali ke kapal,” seru De Falco.
Namun sang kapten diduga menolak dengan alasan regu penolong sudah naik kapal dan juga karena saat itu terlalu gelap dan sulit untuk melihat.
Akhirnya De Falco mengatakan: “Anda mau pulang ke rumah, Schettino? Disitu gelap, jadi Anda mau pulang?”
Menurut petugas penjaga pantai kapten kapal itu tak balik lagi ke kapalnya yang sedang kena musibah. Dia ditahan segera setelah kejadian dan dimasukkan dalam sel polisi.
Kapal pesiar mewah ini sanggup mengangkut empat ribu penumpang dan awak.
Namun dalam sidang Selasa kemarin, Kapten Schettino mengatakan alasannya tak bisa kembali ke kapal adalah karena posisi kapal yang miring sehingga ridak dapat dimasuki.
Menurutnya justru setelah menabrak karang dia berhasil melakukan manuver sulit yang akhirnya menyelamatkan nyawa banyak penumpang.
Kuasa hukumnya, Bruno Leporatti, mengatakan kesaksian ini membantu hakim melepasnya dari penjara dan menggantinya dengan status tahanan rumah.
Sebaliknya jaksa penuntut Francesco Verusio, yang berkeras menganggap Kapten Schettino berisiko kabur, menyatakan keputusan hakim sulit dipahami.
Kini selain mencari sisa korban yang hilang, aparat juga masih mengkhawatirkan adanya kemungkinan tumpahan minyak dari bahan bakar kapal dan yang kemungkinan membuang ribuan ton diesel ke laut.
Tahanan Korut akan diberikan amnesti
Kim Jong-un meneruskan kekuasaan ayahnya sejak 17 Desember lalu.
Korea Utara akan memberikan pengampunan atau amnesti kepada sejumlah tahanan sebagai penghormatan bagi dua pemimpinnya yang telah meninggal.
Kantor Berita pemerintah Korut KCNA mengatakan amnesti akan diberikan mulai 1 Februari nanti, untuk menghormati Kim Jong-il yang meninggal bulan lalu, dan ayahnya Kim Il-sung.
Tidak ada informasi berapa banyak jumlah atau identitas tahanan yang akan dibebaskan.
Organisasi Amnesty International memperkirakan sekitar 200.000 orang dipenjara sebagai tanahan politik, di seluruh Korut.
KCNA mengatakan amnesti mengandung hal “mulia, penuh kebajikan, mencakup seluruh kebijakan poltik Presiden Kim Il-sung dan pemimpin Kim Jong-il”.
Tahun ini merupakan peringatan ke 70 tahun hari ulang tahun Kim Jong-il dan satu abad ayahnya.
Kim meninggal pada 17 Desember karena serangan jantung. Dia telah memerintah Korea Utara sejak kematian ayahnya pada 1994. Selama berkuasa dia memiliki catatan pelanggaran HAM yang buruk.
Penerusnya adalah anaknya Kim Jong-un, yang diyakini berusia akhir 20-an, dan memiliki sedikit pengalaman politik.
Tahun lalu organisasi Amnesty International mengatakan yakin ada perluasan kamp penjara di Korea Utara.
Pernyataan itu disampaikan berdasarkan pada gambar citra satelit yang memperlihatkan ukuran kam lebih luas.
Organisasi itu mengutip kesaksian dari mantan tahanan yang menggambarkan penyiksaan oleh rejim, kelaparan dan kerja paksa dilakukan dalam kam penjara tersebut.





