Nato diminta selidiki tewasnya warga sipil Libia
Organisasi HAM mencatat Nato lakukan 8 kali serangan udara yang tewaskan 72 warga sipil.
Organisasi pemantau HAM mendesak Nato untuk melakukan penyelidikan terhadap kematian warga sipil dalam serangan udara di Libia tahun lalu.
Human Rights Watch yakin serangan udara Nato yang menewaskan setidaknya 72 warga sipil dan menyatakan organisasi itu harus bertanggungjawab.
“Kami meminta dilakukan penyelidikan yang cepat, dapat dipercaya dan seksama,” kata Fred Abrahams dari HRW kepada BBC News.
Nato bersikeras melakukan upaya untuk meminimalisir dampak bagi masyarakat sipil.
Mereka juga menyatakan tidak dapat bertanggungjawab karena tidak ada yang dapat mengkonfirmasi jumlah kematian.
Pesawat Nato melakukan serangan mendadak tahun lalu, dengan sasaran pasukan tentara yang setia terhadap Kolonel Muammar Gaddafi.
Maret lalu, organisasi HAM lain, Amnesty International, mengatakan telah mendata jumlah korban tewas dalam serangan udara yaitu 55 orang, termasuk 16 anak-anak dan 14 perempuan.
Amnesty menyatakan kecewa karena Nato gagal untuk menginvestigasi kasus tersebut.
Intinya kampanye serangan udara oleh Nato di Libia tahun lalu adalah untuk melindungi penduduk sipil, jadi berapa banyak jumlah orang yang tewas masih menjadi masalah yang sensitif, seperti laporan koresponden diplomatik BBC, Bridget Kendall.
Dalam laporan yang dipublikasikan Senin (14/5), HRW mengatakan telah mempelajari rincian bukti yang mengklaim kematian warga sipil dalam delapan serangan udara terpisah yang dilakukan Nato.
Salah satu kasus, disebutkan pemboman pertama yang dilakukan Nato menewaskan 14 orang, dan bom kedua, tak lama kemudian, menewaskan 18 orang lagi yang tengah membantu para korban sebelumnya.
Abrahams menekankan yang menjadi perhatian oleh penulis laporan itu adalah para keluarga tidak ditawarkan kompensasi.
“Sampai sekarang, Nato masih menyangkalnya,” kata dia.
“Mereka menolak untuk memberikan informasi mengenai bagaimana mereka tewas dan menolak untuk menyelidiki, dan ini tidak ada transparansi”.
“Saya pikir ini akan membuat kematian warga sipil menjadi tidak berguna, karena jika di masa depan Nato menolak untuk mengakui kesalahan mereka dan memperbaikinya”.
Nato mengatakan siap bekerja sama dengan otoritas Libia yang baru.
PM Libia sebut penyerang sebagai bandit
PM Abdurrahim al-Keib menghentikan sementara waktu imbalan bagi pejuang revolusi karena dugaan penipuan.
Perdana Menteri Libia Abdurrahim al-Keib mencap lelaki bersenjata yang menyerang kantornya di Tripoli sebagai ”bandit”.
Dalam sebuah pidato yang ditayangkan di televisi dia mengatakan para penyerang tersebut ”berpura-pura” menjadi pejuang pemberontak untuk meminta uang yang ditawarkan sebagai imbalan karena membantu menggulingkan Gaddafi.
“Sore ini, bangunan dewan menteri diserang oleh bandit bersenjata yang berpura-pura sebagai revolusioner, tetapi mereka bukan,” kata Keib.
“Para bandit ini mengklaim penyerangan dilakukan untuk mendapatkan sejumlah uang yang dialokasikan sebagai imbalan bagi pejuang revolusi sesungguhnya.”
Dia menambahkan: ”Disaat pemerintah menegaskan untuk memenuhi janjinya, juga mengumumkan bahwa kami tidak akan menyerah terhadap pemerasan atau para bandit dan tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman.”
Satu penjaga keamanan tewas ketika 200 lelaki bersenjata menyerang kantor perdana menteri, beberapa diantaranya menyerang dengan mortir dan memaksa masuk bangunan.
Tiga anggota pasukan keamanan dan salah satu pria bersenjata juga mengalami luka-luka dalam baku tembak, demikian penjelasan petugas keamanan Tripoli Khaled Besher.
Sekitar 14 penyerang juga telah ditangkap, tambahnya.
“Para bandit ini mengklaim penyerangan dilakukan untuk mendapatkan sejumlah uang yang dialokasikan sebagai imbalan bagi pejuang revolusi sesungguhnya.“
Mereka akhirnya dipukul mundur oleh pasukan keamanan.
Juru bicara pemerintah Nasser al-Manaa mengatakan sekelompok pendemo sebelumnya berkumpul di luar kantor perdana menteri, Selasa pagi.
Menjelang siang, kerumunan massa bertambah hingga 200 orang termasuk lelaki bersenjata dari kawasan barat Yafran yang didukung oleh sekitar 50 truk yang dilengkapi roket anti serangan udara dan pelontar granat.
Yafran adalah kota yang berisi etnis minoritas Berber, terletak sekitar 100km barat daya Tripoli.
Para pendemo awalnya mengungkapkan keluhan mereka tetapi kemudian lelaki bersenjata memaksa masuk ke dalam gedung dan menembakkan senjata, kata Manaa.
Kebanyakan orang yang berada di dalam gedung langsung menyelamatkan diri, termasuk menteri keuangan dan wakil perdana menteri.
Pemerintah sementara Libia dalam beberapa bulan terakhir sempat memberi uang imbalan bagi para mantan pejuang pemberontak, tetapi skema ini dihentikan bulan lalu ditengah-tengah dugaan penipuan, yang menyebabkan kemarahan dari sejumlah kelompok.
Pemerintah Libia juga tengah mendorong ribuan anggota milisi yang mengangkat senjata melawan Kolonel Gaddafi untuk segera dilucuti, ditengah kekhawatiran atas stabilitas keamanan.
Bagaimanapun wartawan BBC melaporkan respon keras atas serangan menunjukkan peningkatan kekuatan di lembaga pemerintah pasca rezim Gaddafi.
Libia dijadwalkan menggelar pemilu parlemen pada Juni mendatang, sebuah pemilihan nasional pertama setelah empat dekade.
Kantor Perdana Menteri Libia diserang
Keberadaan Perdana Menteri Abdel-Rahim al-Kib belum diketahui secara pasti.
Kantor perdana menteri Libia di ibukota Tripoli diserang oleh orang-orang bersenjata yang diyakini sebagai mantan tentara pemberontak hari Selasa (08/05).
Seorang pejabat bagian media Kantor Perdana Menteri, Mohamed Alsabee, mengatakan kepada BBC tembakan terjadi di dalam gedung.
Sebagian besar orang yang berada di gedung telah melarikan diri, termasuk menteri keuangan dan wakil perdana menteri.
Pihak berwenang telah memblokir jalan menuju Kantor Perdana Menteri Libia.
“Banyak orang mengepung gedung dan mengeluarkan tembakan ke gedung dengan berbagai senjata antara lain meriam antipesawat,” kata seorang pegawai seperti dikutip kantor berita AFP.
“Beberapa orang masuk ke gedung dan mengeluarkan tembakan dari dalam gedung,” tambahnya.
Wartawan BBC di Tripoli Rana Jawad melaporkan hingga kini belum jelas apakah Perdana Menteri Abdurrahim al-Keib berada di dalam gedung.
Seorang juru bicara pasukan keamanan mengatakan dua anggota keamanan tewas dalam peristiwa hari ini.
Sebagian mantan tentara pemberontak meminta dikirim ke luar negeri untuk berobat.
Serangan diyakini dilakukan oleh para mantan pemberontak yang menuntut agar mereka dibayar dan agar mereka yang menderita cedera dalam pertempuran untuk menumbangkan Kolonel Gaddafi tahun lalu dikirim ke luar negeri untuk mendapatkan pengobatan.
Mereka sebelumnya mendapat tunjangan rutin karena membantu menumbangkan rezin Gaddafi tetapi skema tersebut akhirnya dibekukan di tengah-tengah tuduhan penipuan.
Kantor Perdana Menteri Libia, yang terletak tidak jauh dari pusat kota Tripoli, sering menjadi sasaran protes para milisi yang merasa tidak puas.
Sebagian dari mereka menuntut pembayaran atau meminta lapangan kerja sebagai pengakuan atas peran mereka untuk menumbangkan Muammar Gaddafi.
Kematian mantan menteri Libia karena kecelakaan
Shukri Ghanem sempat mengeluh “kurang sehat”
Mantan menteri perminyakan Libia Shukri Ghanem tewas karena tenggelam, berdasarkan hasil otopsi di Austria.
Mayat Ghanem ditemukan di Sungai Danube di Wina, Minggu (29/04).
Juru bicara kepolisian, Roland Hahslinger, mengatakan tidak ada keterlibatan pihak luar dan tidak ada indikasi bahwa ia melakukan bunuh diri.
Shukri Ghanem, 69, melarikan diri dari Libia saat negara itu menghadapi unjuk rasa massal menentang pemerintahan Muammar Gaddafi tahun lalu.
Saat itu ia mengatakan situasi “tidak tertahankan.”
Ghanem menjadi perdana menteri Libia periode 2003-2006 dan kemudian menteri perminyakan hingga 2011.
Ia diyakini salah satu orang dekat Gaddafi sebelum ia meninggalkan Libia.
Di Austria, Roland Hahslinger mengatakan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh Ghanem.
Ia mengatakan kematian itu kemungkinan besar adalah kecelakaan dan pada Sabtu malam, Ghanem mengatakan pada anak perempuannya bahwa ia merasa kurang sehat.
Tidak ada surat wasiat yang ditinggalkan dan tidak ada indikasi bahwa jiwanya terancam.
Hasil toksikologi yang akan menunjukkan jika ada kandungan racun di darahnya akan usai beberapa hari lagi.
Ghanem kini bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan di Wina.
Namun Saad Djebbar, seorang pengacara Aljazair yang mengenal Ghanem mengungkapkan keraguannya.
“Kematiannya sangat misterius,” kata Djebbar yang menetap di Inggris kepada kantor berita Reuters.
Categories: Berita Dunia Tags: karena, Kecelakaan, Kematian, Libia, mantan, menteri
Komandan militer Libia gugat pemerintah Inggris
Abdel Hakim Belhaj klaim dia pernah disiksa berbagai agen rahasia termasuk MI6 dan CIA.
Seorang komandan militer senior Libia, Abdel Hakim Belhaj menggugat dinas rahasia Inggris MI6 dan pemerintah Inggris karena dianggap terlibat dalam penangkapan dan penyiksaan ilegal terhadap dirinya.
Belhaj yang pada saat penggulingan Moamar Gaddafi bekerja sama dengan NATO, mengklaim selama empat tahun sejak penangkapannya pada 2004 lalu dia diinterogasi dan disiksa para agen rahasia sejumlah negara termasuk Inggris dan Amerika Serikat.
Belhaj meyakini setelah ditangkap dia dibawa dari Bangkok ke Libia oleh Dinas Rahasia Amerika Serikat, CIA.
Kementerian Kehakiman Inggris menyatakan komitmennya untuk menggelar penyidikan setelah kasus ini mulai diselidiki kepolisian.
Pada 2010 lalu Perdana Menteri Inggris David Cameron menggelar penyeldikian terkait kemungkinan Inggris terlibat perlakuan semena-mena terhadap tersangka teror yang ditahan negara lain setelah tragedi serangan 11 September di New York.
Namun, rencana penyelidikan pemerintah ini ditanggungkan pada Januari 2012, setelah kepolisian mengumumkan tengah menyelidiki klaim Abdel Hakim Belhaj,
Inggris memberi izin
Dari hasil investigasi BBC, pemerintah Inggris ternyata merestui proses pengembalian Abdel Hakim Belhaj ke Libia pada 2004 yang saat itu masih diperintah Moammar Gaddafi.
Bukti ini diperoleh dari surat terkait pengembalian Belhaj yang dikirimkan pejabat senior MI6 Sir Mark Allen kepada Kepala Intelijen Libia saat itu Musa Kusa.
Surat rahasia itu ditemukan di reruntuhan kantor Musa Kusa yang hancur dibom NATO tahun lalu.
Dalam surat itu, kepada pemerintah Libia, MI6 mengucapkan selamat atas diterimanya sebuah ‘paket kiriman udara’.
Selain menuliskan proses pengiriman, surat itu menunjukkan bahwa intelijen yang terlibat dalam proses ini adalah intelijen Inggris.
Ditangkap CIA
Surat MI6 ditemukan di kantor Dinas Intelijen Libia yang hancur dibom NATO.
Surat itu dikirim pada 2004 ketika Belhaj masih dikenal sebagai ketua Kelompok Pejuang Islam Libia.
Dinas Intelijen Dalam Negeri Inggris MI5 meyakini organisasi Belhaj dekat dengan Al-Qeada yang tugasnya adalah merekrut warga Muslim Inggris untuk berperang di Irak.
Pemerintah Inggris selalu membantah keterlibatannya dalam penangkapan, pengembalian dan penyiksaan Belhaj.
Namun, surat kepada Libia itu menunjukkan keterlibatan MI6 dan BBC yakin pemerintah Inggris yang saat itu di tangan Partai Buruh memberikan izin terhadap proses ini.
Wartawan BBC Peter Taylor melaporkan nampaknya MI6 mengetahui keberadaan Belhaj di Malaysia dan akan menuju London untuk mencari suaka politik.
MI6 kemudian menghubungi CIA soal Belhaj. CIA kemudian mencegat Belhaj di Bangkok sebelum kemudian dikembalikan ke Libia.
Categories: Berita Dunia Tags: gugat, inggris, Komandan, Libia, militer, pemerintah







