Pemerintah Malaysia membela keputusan deportasi wartawan Arab Saudi
Pesan Twitter Hamza Kashgari mendapat 30.000 tanggapan.
Pemerintah Malaysia membela keputusan dalam mendeportasi seorang wartawan Arab Saudi yang kemungkinan akan menghadapi hukuman mati di negaranya.
Menteri Dalam Negeri, Hishamuddin Hussein, mengatakan Malaysia tidak bisa menjadi tempat bersembunyi bagi orang-orang yang dicari di negara lain karena melakukan kejahatan.
Hamza Kashgari dideportasi Minggu (12/02) meski ditentang oleh sejumlah kelompok pegiat hak asasi manusia.
Pesan Twitter yang dia tulis dianggap menghina agama Islam maupun Nabi Muhammad dan pesan tersebut mendapat 30.000 tanggapan, termasuk beberapa ancaman pembunuhan.
Walau sudah meminta maaf dan mencabut pesannya dari Twitter, Kashgari tetap menerima ancaman pembunuhan sehingga dia memutuskan untuk melarikan diri ke Malaysia.
Namun pihak berwenang Malaysia langsung menangkapnya begitu tiba di bandara.
Wartawan BBC di Kuala Lumpur, Jennifer Pak, melaporkan Malaysia dan Arab Saudi tidak memiliki perjanjian ekstradisi.
Hamza kini bisa diancam hukuman mati karena menghina agama Islam dan Nabi Muhammad merupakan kejahatan yang serius di Arab Saudi.
Para pegiat hak asasi manusia berpendapat Hamza Kashgari bukan seorang kriminal dan menyesalkan keputusan Malaysia dalam mendeportasinya kembali ke Arab Saudi.
Penasehat hukumnya mengatakan mereka sudah mendapat keputusan pengadilan untuk tidak memulangkan Hamza.
Namun pemerintah Malaysia tetap menempuh deportasi dan menegaskan tidak menerima keputusan pengadilan yang dimaksud.
Categories: Berita Dunia Tags: arab, deportasi, Keputusan, malaysia, membela, pemerintah, Saudi, Wartawan
Suriah ‘tolak’ usulan damai Liga Arab
Posisi Suriah disebut makin terisolir dalam lingkar diplomatik negara dunia.
Suriah telah “menolak secara kategoris” sebuah usulan resolusi yang diajukan Liga Arab untuk mengirim misi perdamaian yang dimotori oleh Liga Arab dan PBB dalam rangka mengakhiri konflik berdarah yang sudah berlangsung 11 bulan di negeri itu.
Rancangan resolusi itu belum secara resmi dirilis, meski wartawan BBC sudah membacanya, antara lain berisi pernyataan bahwa Liga mengakhiri seluruh kerjasama diplomatik dengan Suriah.
Menurut Liga Arab, lembaga itu berniat “membuka jalur komunikasi dengan kelompok oposisi di Suriah dan menyediakan seluruh dukungan politis dan material dalam rangka menyukseskannya,” serta mendesak agar kubu oposisi bersatu-padu.
Sikap Liga ini diambil setelah sepekan lalu usulan resolusi yang diajukan Liga ke depan sidang DK PBB gagal disahkan karena diveto Rusia dan Cina.
Menurut wartawan BBC Jeremy Bowen di Kairo, resolusi baru ini menggunakan bahasa sangat keras , terkeras yang pernah dipakai Liga dan karena itu kemungkinan rancangan resolusi akan dilempar kembali ke meja DK PBB.
Sementara menurut utusan Damaskus di markas Liga Arab di Kairo, Yusuf Ahmed, rancangan resolusi itu “mencerminkan histeria pemerintah negara-negara di belakangnya.”
Sementara di New York, Sidang Umum PBB sedang bersiap menggelar debat tentang Suriah.
Kepala kantor PBB untuk urusan HAM Navi Pillay, yang sejak awal sangat tajam mengkritik tindakan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad, dijadwalkan bicara di depan sidang ini.
Makin kisruh
“Rancangan resolusi itu “mencerminkan histeria pemerintah negara-negara di belakangnya“
Yusuf Ahmed, utusan Damaskus
Rancangan resolusi terbaru ini menurut wartawan BBC menunjukkan makin terisolirnya pemerintah Suriah dari lingkaran diplomatik negara sekitarnya di kawasan Arab. Meski demikian apakah resolusi itu akan berhasil menembus pengesahan, masih akan sangat tergantung pada sikap Moskow yang selama ini dinilai melindungi mitra dagang dan sekutu lamanya di jazirah Arab itu.
Rancangan tersebut secara resmi mengakhiri misi pemantau yang dikirim Liga Arab sejak tahun lalu dan sempat dibekukan pada Januari karena kritik tajam bahwa misi gagal menghentikan kekerasan di Suriah.
Pada hari Minggu, kepala misi yang kontroversial, karena dianggap justru lebih condong pada suara rezim Assad, Jendral Mohammed al-Dabi asal Sudan sudah menyerahkan pengunduran dirinya.
Sementara perkembangan lain yang justru makin membuat konflik ini kisruh adalah pernyataan pimpinan al-Qaeda Ayman al-Zawahiri yang mengatakan dalam sebuah siaran video bahwa organisasinya mendukung perlawanan terhadap Presiden Assad dan kelompok oposisi Suriah tak perlu menggantungkan harapan mendapat dukungan dari negara Barat atau Liga Arab.
Muncul sejumlah laporan bahwa intelejen AS mencurigai kelompok al-Qaeda lah yang terlibat dalam dua ledakan mematikan di kota Aleppo pekan lalu.
Pemboman lagi
Kawasan Baba Amr, Homs mendapat serangan parah tank dan mortir tentara Suriah.
Aksi kekerasan sendiri masih berlangsung di kota-kota yang dilanda konflik di Suriah. Di Homs sepanjang hari Senin dilaporkan pemboman dan tembakan tank serta mortir terus terdengar.
“Tembakan dari tank terus-menerus terdengar di wilayah Baba Amr sementara pemboman di (distrik) al-Waer mulai sejak semalamam,” kata pegiat Mohammad al-Hassan kepada Reuters.
Akibat bentrokan senjata selama beberapa saat saja, sudah sedikitnya empat orang tewas di Baba Amr pada hari Minggu lalu, lapor Pemantau HAM Suriah.
Jumlah korban dilaporkan mencapai sedikitnya 35 orang sepanjang Sabtu.
kelompok HAM setempat mengatakan lebih dari 7.000 orang tewas di seluruh Suriah sejak konflik meletus bulan Maret lalu. Sementara menurut pemerintah, sedikitnya 2.000 anggota angkatan bersenjata tewas saat tugas memerangi “gang and teroris bersenjata.”
Klaim dari dua kubu ini sulit dilacak kebenarannya karena pemerintah setempat membatasi akses media asing masuk ke negeri itu.
Malaysia deportasi wartawan Arab Saudi
Hamza Kashgari dituduh menghina Nabi Muhammad lewat akun twitternya.
Pemerintah Malaysia telah mendeportasi seorang wartawan Arab Saudi yang dituduh menghina Nabi Muhammad melalui twitter.
Kepolisian Malaysia kepada BBC membenarkan bahwa wartawan itu, Hamza Kashgari, 23, dipulangkan ke negaranya pada Minggu (12/2) meski mendapat tentangan kelompok-kelompok hak asasi manusia.
Pekan lalu, Kashgari lewat akun twitternya pada hari Maulid Nabi lalu dianggap melakukan penghinaan karena isinya dinilai meragukan sosok Nabi.
Dalam waktu singkat kicauannya itu mendapaty 30.000 respon dan sejumlah ancaman pembunuhan.
Kashgari kemudian meminta maaf dan mencabut kicauannya itu. Namun, ancaman kematian tak berhenti sehingga dia memutuskan pergi ke Malaysia.
Wartawan BBC di Kuala Lumpur, Jennifer Pak melaporkan Malaysia dan Arab Saudi sebenarnya tidak memiliki perjanjian ekstradisi, namun proses ini dilakukan karena hubungan baik antar negara muslim.
Kuasa hukum Kashgari sebenarnya telah menerima keputusan pengadilan yang mengizinkan Kashgari tinggal di Malaysia hingga kasusnya diselidiki.
Sayangnya, semuanya terlambat dan Kashgari sudah terlanjur dipulangkan ke Arab Saudi.
“Soal hukuman terhadap yang bersangkutan sepenuhnya adalah wewenang pemerintah Arab Saudi,” demikian pernyataan resmi Dalam Negeri Malaysia.
Sementara itu, Amnesty International memperingatkan bahwa pemerintah Arab Saudi kemungkinan besar akan menjatuhkan hukuman mati untuk Kashgari karena dianggap murtad.
“Jika pemerintah Malaysia menyerahkan Hamza Kashgari kepada Arab Saudi, maka pemerintah Malaysia terlilbat dalam segala penderitaan yang diderita Kashgari,” kata Hassiba Hadj Sahraoui dari divisi Timur Tengah Amnesty International.
Menghina Nabi Muhammad dianggap sebagai penghujatan dan di Arab Saudi bisa dijatuhi hukuman mati.
Liga Arab bahas langkah lanjutan untuk Suriah
Sebagian kota Homs hancur lebur akibat gempuran pasukan pemerintah Suriah.
Para menteri luar negeri Liga Arab akan menggelar pertemuan di Kairo, Mesir pada Minggu (12/2) untuk membahas langkah lanjutan setelah gagal mendorong terbitnya resolusi PBB untuk Suriah pekan lalu.
Sumber-sumber resmi mengatakan pertemuan itu akan membahas kemungkinan digelarnya misi pemantau Liga Arab-PBB untuk menggantikan para pemantau Liga Arab yang meninggalkan Suriah Januari lalu akibat kekerasan yang terus meningkat.
Selain itu, tambah sumber itu, pengakuan resmi terhadap kelompok oposisi Suriah juga akan dibahas namun untuk masalah pengakuan ini belum semua negara Liga Arab menyepakatinya.
Sebelum pertemuan Liga Arab digelar maka akan didahului pertemuan Dewan Kerjasama Teluk (GCC) yang akan mengeluarkan Suriah dari organisasi tersebut.
Sementara itu, Arab Saudi -yang adalah anggota GCC dan Liga Arab- juga mengedarkan rancangan resolusi di Sidang Umum PBB, sama dengan rancangan resolusi yang ditolak Rusia dan Cina.
Isi rancangan itu pada umumnya adalah dukungan penuh untuk rencana perdamaian Liga Arab yang diterbitkan bulan lalu.
Inti rencana itu adalah seruan agar Presiden Bashar al-Assad untuk menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden dan membuka jalan pembentukan pemerintahan baru yang menyertakan kelompok oposisi.
Sidang Umum PBB dijadwalkan melakukan pembahasan soal Suriah pada Senin (13/2) namun pengambilan suara untuk sebuah resolusi belum termasuk dalam jadwal pembicaraan itu.
Dalam Sidang Umum PBB tidak ada negara yang bisa memveto sebuah resolusi. Namun, resolusi yang dihasilkan tidak memiliki kekuatan hukum seperti resolusi Dewan Keamanan PBB.
Warga Suriah berunjuk rasa menentang pembantaian rakyat oleh rezim Presiden Assad.
Setelah sepekan berada di bawah hujan peluru dan pengepungan, kondisi di sisi barat kota Homs dilaporkan semakin memburuk ditambah persediaan kebutuhan dasar yang semakin menipis.
Kondisi paling buruk dilaporkan terjadi di distrik Baba Amr -yang menjadi pusat protes anti pemerintah. Namun warga kota mengatakan mereka juga mendengar ledakan dan baku tembak di distrik Inshaat yang lokasinya berdekatan.
Sementara itu, para pegiat hak asasi manusia mengatakan lebih dari 400 orang tewas sejak pasukan pemerintah menyerang posisi kelompok oposisi di Homs, Sabtu (11/2).
Pemimpin oposisi di pengasingan Kamal al-Labwani kepada Reuters mengatakan sebuah gencatan senjata yang langka telah disepakati.
Pasukan oposisi diperbolehkan mundur asalkan mereka menyerahkan persenjataan dan kendaraan tempur yang dirampas dari pasukan pemerintah.
Kisruh politik di Suriah sejak Maret tahun lalu telah menewaskan ribuan warga negeri itu.
PBB memperkirakan lebih dari 5.400 orang tewas, sementara itu kelompok pegiat HAM meyakini korban tewas sudah lebih dari 7.000 orang.
Arab Saudi tembak mati seorang ‘pemrotes’
Kepolisian Arab Saudi mengatakan aparat keamanan menembak mati seorang warga dalam demonstrasi di daerah Qatif yang mayoritas berpenduduk Shiah.
Seorang juru bicara kepolisian mengatakan aparat keamanan sedang memantau unjuk rasa tanpa izin pada hari Jumat (10/2) ketika mereka ditembak oleh orang-orang bertopeng.
“Aparat keamanan yang memantau pertemuan tanpa izin di kota Al-Awamiya, Qatif, mendapatkan tembakan dari orang-orang bersenjata yang memakai topeng,” kata juru bicara kepolisian Arab Saudi seperti dikutip kantor berita resmi SPA.
Salah satu dari mereka, lanjutnya, kemudian tewas ketika polisi membalas tembakan. Menurut para aktivis Arab Saudi, pria tersebut bernama Zuhair al-Said, 21 tahun.
Para aktivis mengatakan polisi berusaha membubarkan unjuk rasa di Qatif, Provinsi Timur, yang diadakan untuk menentang kematian seorang pengunjuk rasa warga Shiah yang terjadi sehari sebelumnya.
Mereka menambahkan aparat keamanan mengerahkan delapan kendaraan lapis baja untuk membubarkan massa.
Protes menuntut reformasi menjalar ke Qatif, Arab Saudi, menyusul pergolakan di Bahrain.
Pengunjuk rasa yang tewas pada hari Kamis disebutkan bernama Munir al-Medani, juga 21 tahun. Dia meninggal dunia akibat luka tembakan aparat keamanan di kawasan Al-Shwaika, Qatif dalam aksi menuntut reformasi.
Pihak berwenang Arab Saudi mengatakan Medani juga tewas dalam tembak menembak antara aparat keamanan dan orang-orang bertopeng.
Demonstrasi di Provinsi Timur mulai terjadi Maret 2011 ketika pergolakan pecah di negara tetangga Bahrain.
Sekitar 500 orang telah ditangkap sejak Maret lalu dan menurut para aktivis, sebanyak 80 orang masih berada dalam tahanan termasuk penulis Nazir al-Majid dan aktivis HAM Fadil al-Munasif.





