Ledakan bom di Pakistan tewaskan delapan orang
Ledakan bom terjadi di dekat wilayah suku-suku Pakistan.
Kepolisian Pakistan mengatakan setidaknya delapan orang tewas dan 30 orang lainnya luka-luka setelah bom meledak di sebuah terminal bus yang terletak di kota Peshawar.
Sejumlah kendaraan dilaporkan mengalami kerusakan cukup berat akibat ledakan bom yang cukup kuat itu.
Sejauh ini tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab terhadap aksi peledakan bom.
Peshawar merupakan kawasan yang dekat dengan daerah suku-suku Pakistan yang dalam beberapa tahun terakhir kerap menjadi sasaran serangan bom pesawat tanpa awak AS.
“Bom tersebut ditanam pada terminal bus dan penumpang di terminal sangat penuh ketika terjadi ledakan hari ini,” kata petugas kepolisian setempat bernama, Tahir Ayub kepada kantor berita Reuters.
Sejumlah stasiun televisi memperlihatkan kendaraan ambulan melaju dengan kencang membawa sejumlah korban luka ke rumah sakit setempat.
Laporan yang beredar menyebutkan jumlah korban tewas akibat ledakan ini kemungkinan akan bertambah.
Meskipun jumlah ledakan bom di Pakistan berkurang tahun lalu namun sejumlah ledakan mematikan kerap menyasar warga sipil dalam dua bulan terakhir.
Ledakan bom terakhir terjadi pada hari Jumat (17/02) lalu di kota Parachinar dan menewaskan puluhan orang.
Sementara bulan lalu tercatat 30 orang tewas saat sebuah bom mengantam terminal bus di Khyber, daerah suku-suku Pakistan lainnya.
Perundingan dengan Napi Kerobokan berakhir
Pasukan TNI ikut mengendalikan keamanan di penjara Kerobokan.
Perundingan yang melibatkan pejabat pemerintah dari Kementerian Hukum dan HAM, Polisi dan TNI dengan narapidana penjara Kerobokan telah berakhir.
Aparat mengklaim telah berhasil meminta sejumlah narapidana kembali ke sel mereka, termasuk diantaranya belasan orang yang dinggap sebagai provokator kunci terjadinya rusuh di Kerobokan dalam dua hari terakhir.
Menurut Kepala Divisi Humas Polda Bali, Kombes Pol Hariyadi, perundingan juga bertujuan untuk memindahkan sebagian narapidana ke lokasi lain guna mengurangi kepadatan penjara Kerobokan yang dihuni sekitar 1050 orang.
“Perundingan sudah berakhir dengan cara-cara damai dan Napi sudah kembali ke tempat semula,” kata Kombes Hariyadi.
“Mediasi tadi antara lain memang untuk mengurangi kapasitas lapas yang begitu besar, dibanding dengan kapasitas yang seharusnya dimuat.”
Penjara Kerobokan sendiri seharusnya hanya memuat sekitar 300 narapidana.
Namun menurut Hariyadi banyak narapidana yang tidak ingin dipindahkan dari penjara Kerobokan.
“Sudah ditawarkan dan ada sekitar 100-200 orang saja (yang bersedia), sebagian lain mereka nggak mau.”
Keterangan lain menyebutkan bahwa napi asing merasa aman berada di penjara Kerobokan.
“Napi asing tidak ingin dipindahkan, karena merasa tidak ada ancaman dari Napi lokal,” kata Kepala Penerangan Daerah Militer IX/Udayana Kolonel Wing Handoko.
Pernyataan ini sekaligus dibuat Handoko sebagai koreksi terkait pernyataannya sebelumnya yang menyebut sebagian Napi asing digunakan sebagai sandera dalam dampak lanjutan insiden kerusuhan yang terjadi pada Selasa (21/02) malam lalu.
“Napi asing tidak ingin dipindahkan, karena merasa tidak ada ancaman dari napi lokal“
“Bukan disandera, mungkin karea posisinya di dalam dan tidak keluar jadi seolah-olah disendera.”
Dia memastikan saat ini pihak keamanan sudah memegang kendali keamanan di penjara Kerobokan.
“Kemamanan sudah dipegang kendalinya, tinggal teknisnya soal pertimbangan apakah akan evakuasi semua atau sebagian.”
Sejauh ini penyebab kerusuhan di penjara Kerobokan menurut Kepolisian Indonesia adalah karena keluhan narapidana tentang kapasitas penjara yang telah melewati batas maksimal penjara tersebut.
Penjara Kerobokan saat ini menampung narapidana dari berbagai kasus kejahatan seperti pembunuhan, pemerkosaan dan penyalahgunaan obat terlarang.
Categories: Berita Dunia Tags: berakhir, dengan, Kerobokan, Napi, Perundingan
Paling tidak 48 tewas dalam serangan di Irak
Serangan terjadi di sejumlah tempat dengan sasaran warga Syiah.
Paling tidak 48 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam serangkaian pemboman dan penembakan di Irak, menurut polisi.
Tindak kekerasan itu terjadi di daerah Syiah, sebagian besar dengan sasaran polisi dan pos-pos pemeriksaan.
Di Baghdad, sembilan orang meninggal dalam dua serangan di kawasan Karrada. Di luar ibukota, paling tidak dua orang meninggal di Baquba.
Belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas penyerangan itu. Serangan di Irak meningkat sejak pasukan Amerika Serikat ditarik bulan Desember lalu.
Sejumlah laporan juga menyebutkan terjadi pemboman di provinsi Salahuddin dan Kirkuk.
Ibukota provinsi Salahuddin, Tikrit, adalah tempat kelahiran mantan pemimpin Saddam Hussein yang dihukum mati tahun 2006.
Pihak berwenang mengatakan jumlah korban tewas akibat serangan hari Kamis (23/02) dapat meningkat.
Minggu lalu, paling tidak 18 orang meninggal dalam serangan bom bunuh diri di dekat akademi polisi di ibukota Baghdad.
Warga Syiah menjadi sasaran serangan sejak pemerintah pimpinan Perdana Menteri Nouri al-Maliki yang juga penganut Syiah, mengambil sejumlah langkah terhadap pejabat senior dari koalisi pemerintah yang didominasi Sunni.
Satu hari setelah ditariknya pasukan Amerika Serikat, pemerintah mengeluarkan surat penangkapan kepada Wakil Presiden Tariq al-Hashemi, yang dituduh mendanai kelompok penjahat.
Hashemi, yang menyanggah dakwaan itu, saat ini berada di wilayah Kurdi Irak dan mendapat perlindungan pemerintah daerah setempat.
Wartawan BBC Rafid Jabbouri di Baghdad mengatakan al-Qaeda di Irak menyatakan melakukan penyerangan pada bulan Januari dan Desember.
Namun Jabbouri mengatakan menurut pejabat tinggi pemerintah, serangkaian kekerasan yang terjadi sejak penarikan pasukan Amerika karena masalah politik.
Pejabat tinggi itu menyalahkan Hashemi yang dianggap merencanakan dan mengkoordinasikan serangan itu.
Napi asing jadi sandera di LP Kerobokan
TNI mengatakan napi masih menguasai penjara hingga Kamis (23/02) siang.
Pejabat kepolisian dan TNI sedang berunding dengan para napi di penjara Kerobokan, Bali, yang disebutkan tengah menyandera napi lainnya termasuk napi asing.
Upaya negoisasi ditempuh aparat agar penyandera melepaskan para napi, utamanya napi asing, anak-anak dan perempuan, dalam keadaan selamat.
Kepala Penerangan Daerah Militer Udayana Kolonel Wing Handoko mengatakan, sampai siang ini sedang berlangsung negoisasi dengan para napi yang melakukan penyanderaan.
“Pasukan (TNI dan polisi) pada detik-detik ini sudah masuk ke dalam (penjara) untuk upaya negoisasi dalam rangka memindahkan napi asing, wanita maupun anak-anak,” kata Handoko kepada wartawan BBC Indonesia, Andreas Nugroho, melalui telepon, Kamis (23/02) siang.
Selain menghindari bentrok terbuka, menurut Handoko, aparat keamanan menempuh jalur perundingan, karena napi yang melakukan penyanderaan “sepenuhnya menguasai penjara”.
“Sehingga ini menyulitkan kita masuk ke dalam (penjara), karena (para napi) bersikeras untuk bertahan di dalam, ini yang menjadi pokok persoalannya”, lanjutnya.
Ditanya berapa jumlah napi yang melakukan penyanderaan, Handoko mensinyalir “jumlahnya belasan”.
“Kita sinyalir jumlah ‘provokator berat’ belasan yang berupaya mempertahankan status quo di rumah tahanan, “ungkapnya.
“Pasukan (TNI dan polisi) pada detik-detik ini sudah masuk ke dalam (penjara) untuk upaya negoisasi dalam rangka memindahkan napi asing, wanita maupun anak-anak.“
Kepada pihak penyandera, aparat meminta agar napi asing, perempuan dan anak-anak untuk dilepaskan terlebih dulu. “Dan kemudian kita evakuasi ke tempat lebih aman”.
Informasi yang diterima Handoko menyebutkan ada sekitar 60 orang napi asing di dalam penjara Kerobokan.
Upaya pemindahan para napi asing ini antara lain dibenarkan oleh Konsul Jendral Australia yang berkedudukan di Bali, dimana sekitar 12 warga negara itu ditahan di Kerobokan saat ini.
Juru bicara Kedubes Australia di Jakarta, Ray Marcelo kepada BBC mengatakan bahwa menurut laporan staf mereka di Bali, para napi dalam kondisi selamat.
Dan lanjutnya, upaya pemindahan saat ini ‘tengah berlangsung’.
Para tahanan akan dipindahkan ke Lapas Klungkung, yang terletak sekitar satu setengah jam perjalanan dari Denpasar.
Polisi Meksiko tangkap kepala LP karena kerusuhan
Persoalan korupsi dan perkelahian antar geng meruapakan hal yang kerap terjadi pada penjara Meksiko.
Petugas keamanan Meksiko menangkap pimpinan dan puluhan petugas penjara Apodaca karena bekerjasama dengan anggota geng obat bius di wilayah Nuevo Leon.
Mereka dituduh terlibat dalam upaya pelarian massal anggota geng Zetas dan membantu aksi penyerangan terhadap anggota geng lawannya di penjara tersebut.
Akibat tindakan para direktur dan petugas penjara itu setidaknya 33 anggota geng Zetas berhasil melarikan diri dan menewaskan 44 orang anggota geng Gulf Cartel yang menjadi lawan mereka.
Petugas Penyelidik yang menangani kasus ini mengatakan mereka mempunyai bukti kuat bahwa para penjaga ini membantu rencana pembunuhan yang diotaki anggota geng Zeta.
Menurut petugas tersebut 44 tahanan yang merupakan anggota geng Gilf Cartel tewas ditikam, dipukuli dan dicekik oleh lawannya saat bentrokan tersebut terjadi.
Peristiwa berdarah di penjara Apodaca, Monterey ini merupakan peristiwa terburuk yang pernah terjadi di Meksiko.
“Penyelidikan telah berhasil mengungkap partisipasi langsung para petugas dalam kerusuhan tersebut dan beberapa yang lainnya ikut membanrtu pelarian tahanan,” kata Jaksa Penuntut dari Negara Bagian, Nuevo Leon, Adrian la Garza.
“Penyelidikan telah berhasil mengungkap partisipasi langsung para petugas dalam kerusuhan tersebut dan beberapa yang lainnya ikut membanrtu pelarian tahanan.“
“Kita dapat menyimpulkan bahwa ini bukan hanya perkelahian antar anggota geng tapi merupakan pembunuhan yang langsung dikerjakan dengan serangan langsung terhadap tahanan lain yang sengaja disasar di penjara tersebut.”
Petugas mengatakan mereka yang telah ditangkap dalam kasus ini adalah Direktur Penjara, Geronimo Martinez, Wakilnya Juan Hernandez dan Kepala Keamanan Penjara, Oscar Laureno.
Sementara penyelidikan masih berlangsung, petugas juga telah menahan 29 orang tersangka lainnya.
Kasus kekerasan antar geng dan korupsi merupakan persoalan yang kerap terjadi disejumlah penjara Meksiko.
Selain petugas keamanan, penyelidikan juga dilakukan oleh Komisi Hak Asasi Manusia negara itu, mereka mendesak agar pemerintah melakukan upaya lebih untuk mencegah kekerasan di sejumlah penjara.





