Kota Kuno Pertempuran Daud Dan Goliath Di Temukan


Sebuah bangunan yang diyakini merupakan pintu gerbang dari sebuah benteng kuno ditemukan di Israel. Bangunan yang berupa tumpukan batu-batu ini merupakan kota kuno Sha’arayim. Kota ini disebut-sebut menjadi tempat pertempuran antara Nabi Daud alaihissalam (David) dengan Goliath (Thalut). Dalam Kitab Suci kaum Nasrani, Injil, disebutkan pertempuran itu terjadi di lembah Elah dekat Kota Sha’arayim. Demikian rilis berita National Geographic News pada 21 November 2008.

Pintu gerbang benteng Elah ini merupakan pintu kedua yang ditemukan dan sekaligus membenarkan makna kata Sha’arayim dalam bahasa Ibrani yang berarti ‘benteng dengan dua pintu’.

“Semua situs dari periode ini mempunyai hanya satu pintu. Tetapi situs ini mempunyai dua pintu dan ini sangat tidak biasa,“ kata arkeolog Yosef Garfinkel dari Universitas Hebrew di Yerusalem.

“Pintu ini terbuat dari tumpukan batu-batu berbobot hingga 10 ton. Berada di Kota Yerusalem sebelah timur,” lanjutnya.

Bukti Raja Daud

Penemuan ini merupakan temuan baru yang kedua disekitar Benteng Elah atau Khirbet Qeiyafa dalam bahasa Arab. Saat ini lokasi persisnya berada di Kota Bet Shemesh.

Sebelumnya, pada bulan Oktober lalu, Garfinkel berhasil pula menemukan sejumlah barang tembikar berusia sekitar 3000 tahun. Beberapa diantaranya terdapat teks berbahasa Ibrani. Temuan ini dianggap temuan terpenting di Israel, sejak penemuan Surat Gulungan di Laut Mati beberapa tahun lalu,.

Sementara itu, hasil tes uji isotop karbon-14 terhadap bebatuan dan barang tembikar yang ditemukan Garfinkel menunjukkan umur antara 1000 hingga 975 Sebelum Masehi. Pada masa itu, diduga Raja Daud alaihissalam masih hidup.

Garfinkel merasa yakin penemuan itu menambah bukti baru bahwa kota Sha’arayim merupakan benteng terdepan atau pusat dari Kerajaan Israel dimasa Raja Daud alaihissalam. Benteng itu juga merupakan petunjuk Zaman Besi yang saat itu dikuasai Raja Daud.. Sebagaimana diketahui, Raja Daud alaihissalam adalah perintis penggunaan besi pada masanya.

Sha’arayim disebut sebanyak tiga kali dalam Alkitab dan dua kali dikaitkan dengan Nabi Daud alaihissalam.

Kota Judea?

Sementara itu, sejumlah arkeolog lain yang mendengar berita penemuan itu sangat gembira sekaligus memperingatkan agar jangan terburu-buru mengambil kesimpulan.

Amos Kloner, seorang professor di Universitas Bar Ilan, mengaku pernah meneliti hampir seluruh wilayah Lembah Elah.

“Temuan itu hanya petunjuk awal saja. Karena itu semua aspek harus diperiksa. Temuan itu juga tidak menunjukkan kaum Yahudi pernah menghuni kota itu,” katanya. .

“Lagipula tidak ada bukti apakah orang Yahudi atau Palestina pernah menguasai benteng strategis yang menghadap lembah Elah itu,” lanjutnya. Dalam penelitian Garfinkel, arkeolog Kloner tidak dilibatkan.

Garfinkel yang memimpin penggalian tetap percaya temuannya itu merupakan tempat yang paling memungkinkan untuk digunakan sebagai pos pertahanan terdepan yang berada di sebelah barat dari Kerajaan Yudea. Pada masa itu kerajaan tersebut menguasai sebelah barat daya Asia dan Palestina. Kelak Kerajaan Yudea berkembang menjadi Kerajaan Israel dimasa Raja Daud alaihissalam.

Tidak ada bukti

Pendapat Amos Kloner didukung Profesor Israel Knohl dari Universitas Hebrew di Yerusalem. Ilmuwan yang juga tidak dilibatkan dalam penggalian di Lembah Elah ini mengatakan bahwa masalah utama dengan tempat tersebut adalah perlu adanya bukti yang lebih tegas apakah itu kota Yudea.

Menurutnya, penemuan pintu kedua tersebut memang penting. Tetapi tidak dapat dipastikan apakah itu kota Sha’arayim atau kota Yudean (kota bangsa Yahudi). Sejauh ini para ilmuwan mengetahui hampir tidak ada kehidupan di Kota Sha’arayim.

“Jika Anda bertanya adanya kehidupan sebagaimana terdapat di Yerusalem dimasa Raja Daud alaihissalam, kami tidak dapat mengatakannya. Apalagi jika lokasi temuan itu arealnya kecil dan tidak terlalu penting,” kata Knohl, yang rekan sekampus Garfinkel.

Tetapi Garfinkel mengatakan dia akan terus menjelajahi Lembah Elah untuk mencari bukti lebih lanjut.

“Mungkin saja kami akan menemukan teks pada batu-batu ini yang menunjukkan siapa yang membangun kota ini. “Saya Daud, putra Yishai, pembangun kota ini,” ujar Garfinkel sambil tersenyum.

Read Posts from other site