Mugabe: Pembangun Sekaligus Penghancur !

25

Super-hero Mugabe (84) lari dari realitas dan kehilangan arah. Ia
membawa penduduk Zimbabwe ke jurang kekerasan. Mugabe bukan lagi
Kamerad Bob, nama panggilan intimnya. Ia sudah 28 tahun berkuasa, namun tidak dapat disejajarkan dengan Omar Bongo di Gabon atau Khadafi di Libia. Jalur politik Mugabe mengenal lika-liku sendiri.

Ia secara tidak sengaja terjun ke dunia politik. Seusai studi di
Britania Raya sekitar tahun 60-an, Mugabe kembali ke Rhodesia dan
mendirikan Zimbabwe African National Union (ZANU). Ia sempat mendekam selama 10 tahun di penjara karena konflik dengan Ian Smith, pimpinan
apartheid Rhodesia.

Mugabe berhasil memerdekakan Zimbabwe pada 4 Maret 1980, kendati ia disebut politikus biasa-biasa saja. Rekonsiliasi menjadi agenda utama
politiknya. Penduduk berkulit putih diperbolehkan menjadi warga negara
Zimbabwe, bahkan diizinkan untuk mengelola sendiri lahan pertanian
mereka.

Selain itu, Mugabe juga “merangkul” lawan politiknya yang berasal
dari suku-suku minoritas di Zimbabwe seperti Ndebele dan Shona. Konflik dengan suku Shona yang ingin melepaskan diri dari Zimbabwe dibarengi dengan silang pendapat dan kekerasan yang masih membekas sampai saat ini.

Pembantaian Masal

Sayang, situasi memburuk di masa pemerintahan Mugabe yang belum
genap berusia 3 tahun. Ia memecat rekan dekatnya Joshua Nkomo,
keturunan Ndebele, dan tahun-tahun selanjutnya Mugabe dipastikan
membantai sekitar 20 ribu penduduk Matabeleland, daerah asal Nkomo.
Mugabe berubah menjadi penguasa tunggal radikal dikelilingi anteknya.

Sebagian besar orang kepercayaan Mugabe masih aktif di panggung
politik: mantan kepala dinas intelijen Emmerson Mnangagwa enyandang gelar son-of-god dan marsekal Angkatan Udara Perence Shiri dianggap bertanggung jawab atas peristiwa berdarah di Matabeleland. Shiri menentang pencalonan pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai di pemilihan presiden. Tsvangirai berencana menyeret Shiri ke meja hijau.

Selain musuh di dalam negeri, seperti Nkomo dan Tsvangirai, Mugabe
mulai melancarkan serangannya ke Downing Street 10. Perdana Menteri
Inggris adalah musuh terbesar Mugabe. Hubungan tidak harmonis dengan Britania Raya selama hampir 10 tahun terakhir dianggap pemicu “kelainan psikis” Mugabe. Kebanggaan dan harga diri Mugabe seolah terusik.

Teror dimulai ketika “anak ingusan” Tony Blair mengirim surat ke salah satu menterinya, Clare Short. Short meneruskan surat tersebut ke Mugabe. Tiba saatnya bagi Inggris untuk menghentikan bantuan inansial kepada Zimbabwe sesuai dengan perundingan di Lancaster House. Subsidi untuk mengambil alih lahan pertanian penduduk berkulit putih – tanpa paksaan – tidak lagi berada di bawah tanggung jawab Inggris.

Short mengakhiri suratnya dengan kalimat fatal: “Kami adalah pemerintahan baru dengan latar belakang (budaya) berbeda dan tanpa
hubungan khusus dengan sejarah kolonial. Saya sendiri keturunan Irlandia dan seperti Anda tahu kami juga pernah dikolonisasi, tetapi
kami bukan kolonisator.”

Kawan Jadi Lawan

Mugabe melihat peluang dari isi surat bernada melecehkan tersebut.
Ia justru menyalahkan kegagalan Inggris memajukan bekas koloninya.
Pemerintahan Mugabe tidak lepas dari krisis finansial dan tekanan dari
lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Di tengah
krisis ekonomi yang melanda, muncul pula tokoh oposisi Morgan
Tsvangirai – mantan aktivis serikat buruh – dengan Movement for
Democratic Change (MDC).

Popularitas Mugabe menurun tajam seiring dengan krisis ekonomi yang
tidak bisa dibendung lagi. Lahan pertanian milik penduduk berkulit
putih diambil alih secara paksa mulai tahun 2000 dan diserahkan ke
penduduk berkulit hitam, terutama sahabat dekat Mugabe. Sayang, mereka
buta mengelola lahan pertanian dan ekonomi makin terpuruk.

Krisis moneter mulai merembet ke politik. MDC tampil sebagai lawan
tangguh partai Mugabe, ZANU. Intimidasi dan kekerasan menjadi makanan sehari-hari pendukung MDC. Dunia internasional mengecam dan Britania Raya berada di barisan terdepan. Inggris memberikan sanksi pembatasan bepergian ke luar negeri bagi Mugabe dan keluarga serta pengikutnya.

Mugabe yang dulu secara terbuka kagum dengan all-things-British
berbalik menjadi anti Britania, setidaknya terhadap tokoh-tokoh politik
Inggris. Ia terang-terangan menyudutkan Inggris untuk mendongkrak
kredibilitasnya di arena politik Zimbabwe. Ironisnya, makin gencar ia
menyerukan bahaya neo-kolonisasi Inggris, makin banyak pula pengikutnya tidak menggubris Mugabe.

Ia kalah dalam babak pertama pilpres akhir Maret lalu. Untungnya,
pemilu berlangsung relatif aman tanpa kekerasan. MDC pun aktif
berkampanye di lokasi yang pernah menjadi benteng Mugabe. Tanda-tanda kemenangan pihak oposisi tidak terelakkan. Tsvangirai berupaya – jauh sebelum hasil pemilu diumumkan – berdialog dengan Mugabe seputar kemungkinan pensiun dini Kamerad Bob.

Alih-alih memikirkan tawaran tersebut, Gabriel Mugabe bertransformasi menjadi Lucifer Mugabe. Tiga bulan belakangan, ia justru menunjukkan sifat iblisnya. Gelombang kekerasan dan kesengsaraan melanda Zimbabwe. Angka inflasi melonjak pesat, bahkan menjadi rekor tertinggi di dunia. Mugabe adalah tiran berlabel ZANU.

Korban tewas kurang dari 100 orang bukan indikasi angka sebenarnya.
Mugabe menyiksa sekitar 12 juta penduduk Zimbabwe – sebagian besar
secara fisik, sisanya intimidasi mental. Penyiksaan ini dipicu oleh lawan politiknya baik di dalam maupun di luar negeri. Morgan Tsvangira terbukti bukan alternatif terbaik bagi Zimbabwe.

Keputusan Tsvangirai untuk menarik diri dari babak kedua pilpres di Zimbabwe dianggap bijaksana dan taktis. Namun, keputusannya untuk
berlindung di Kedubes Belanda – ditambah dengan konferensi pers –
memberikan kesan lemah. Zimbabwe perlu pemimpin baru yang dapat
diandalkan.

Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki, penengah krisis politik di Zimbabwe, kerap disebut bayangan cermin Mugabe. Mbeki juga mengenyam pendidikan di Inggris dan akan lebih dulu mengutip Shakespeare ketimbang sastrawan Afrika, Wole Soyinka. Seperti halnya Mugabe, Mbeki – dan pendahulunya Nelson Mandela dengan partai ANC – relatif belum lama dapat membebaskan tanah air mereka dari belenggu apartheid.

Neo-kolonialisme dan apartheid menjadi benang merah dalam perjuangan Mugabe dan Mbeki. Mbeki kadang melangkah lebih jauh dan mengecam supremasi penduduk berkulit putih tidak saja di Afrika Selatan tetapi di seluruh dunia Barat. Sejauh ini, hanya Mbeki yang tidak pernah menyerang Mugabe secara frontal. Sikap netral Mbeki – presiden negara termakmur secara politik dan ekonomi di benua Afrika – sering dipertanyakan. Apalagi, Mugabe sebagai pemimpin terbukti gagal menjalankan tugas.

Takdir Tragis

Mayoritas presiden negara-negara Afrika tidak lagi sepaham dengan
Mugabe. Semua penduduk Afrika turut prihatin dengan nasib buruk bangsa serumpun mereka di Zimbabwe. Namun, Mbeki tetap bersikeras dengan pendiriannya dan Mugabe masih bebas berkeliaran. Dunia cemas situasi perang saudara di Sierra Leone akan terulang kembali. Orang belum lupa Zaire (sekarang Kongo) di bawah rezim Mobutu.

Sepuluh tahun silam, Zimbabwe di bawah pimpinan Robert Mugabe adalah salah satu roda penggerak dan tumpuan benua Afrika. Di Harare, ibukota Zimbabwe, setiap pengendara mobil akan berhenti sewaktu lampu merah
menyala. Sekarang pun, tanpa aliran listrik penduduk masih melintasi
perempatan jalan dengan hati-hati dan teratur. Tata krama dan sopan
santun di jalan adalah hal lumrah di Zimbabwe, kendati kepedihan dan
kekerasan kini menjadi santapan sehari-hari.

Presiden Robert Mugabe menjadi kandidat tunggal pilpres babak kedua
akhir Juni kemarin. Tsvangirai mengundurkan diri karena kekerasan yang
menimpa pendukungnya. Banyak penduduk diam di rumah dan sengaja tidak datang ke lokasi pemilu. Keberanian ini dianggap kemenangan bagi
Tsvangirai. Uni Eropa berpendapat, pemilu tersebut tidak lain adalah
sandiwara belaka. Juli mendatang, Dewan Keamanan PBB akan embahas sanksi baru yang akan diberikan terhadap Zimbabwe.

Read Posts from other site